Baca 10 detik
Suara.com – Ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat atau USD dalam perdagangan internasional perlahan mulai terkikis, setidaknya dalam hubungan bilateral antara Indonesia dan China.
Bank Indonesia (BI) bersama bank sentral China (PBoC) terus menggenjot penggunaan mata uang lokal masing-masing, yakni Rupiah dan Yuan.
Penggunaan Rupiah dan Yuan itu dilakukan dalam transaksi perdagangan dan investasi melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Hasilnya pun signifikan. Inisiatif yang dirancang untuk menciptakan efisiensi, menekan biaya konversi, dan menjaga stabilitas keuangan ini menunjukkan lonjakan transaksi yang luar biasa.
Para pelaku usaha kini semakin nyaman bertransaksi langsung menggunakan Rupiah atau Yuan tanpa harus melalui perantara dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memaparkan data terbaru yang menunjukkan antusiasme pasar terhadap skema LCT.
Nilai transaksinya bahkan telah melampaui capaian tahun lalu dalam periode yang sama.
“Pada periode Januari–Juli 2025, nilai transaksi LCT Indonesia–Tiongkok telah mencapai ekivalen 6,23 miliar dolar AS, meningkat dari ekivalen 2,17 miliar dolar AS atau sekitar Rp35 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Perkembangan Transaksi Mata Uang Lokal (LCT) Indonesia-China
Baca Juga: Uniknya Cara Healing Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Bikin Netizen Ngakak: Wah, Sama Pak!
| Periode Transaksi | Nilai Transaksi (Ekuivalen) | Keterangan |
| Januari – Juli 2024 | US$ 2,17 Miliar (sekitar Rp 35 Triliun) | Data pembanding tahun sebelumnya. |
| Januari – Juli 2025 | US$ 6,23 Miliar | Terjadi peningkatan hampir tiga kali lipat. |
Peningkatan nyaris tiga kali lipat ini menjadi sinyal kuat bahwa fondasi untuk mengurangi dominasi dolar dalam neraca perdagangan kedua negara raksasa ekonomi ini semakin kokoh.
Penguatan kerja sama ini juga menjadi salah satu tonggak penting dalam perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-China.
“Langkah ini mencerminkan komitmen bersama memperkuat kolaborasi bilateral dan membangun ekosistem keuangan yang lebih terhubung, aman, dan inklusif. Ke depan, Bank Indonesia akan terus bekerja sama dengan PBoC dan pemangku kepentingan untuk mendorong inovasi serta memperluas integrasi keuangan,” katanya.
Dari Perdagangan Besar ke Transaksi Ritel: Uji Coba QRIS Antarnegara
Tidak berhenti di level perdagangan korporat, kolaborasi ini merambah hingga ke level transaksi ritel yang menyentuh langsung masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, BI dan PBoC secara resmi meluncurkan uji coba terbatas (sandbox) untuk konektivitas pembayaran lintas batas menggunakan QR Code Indonesian Standard (QRIS).
Artinya, dalam waktu dekat, warga negara Indonesia yang bepergian ke China dapat melakukan pembayaran dengan hanya memindai QR code di merchant lokal menggunakan aplikasi pembayaran dari Indonesia, begitu pula sebaliknya.
Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari komitmen kedua bank sentral untuk menciptakan sistem pembayaran yang seamless dan terintegrasi.
Uji coba ini melibatkan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dan raksasa pembayaran asal China, UnionPay International.
Langkah ini tidak hanya menjadi simbol kemajuan teknologi finansial, tetapi juga bertujuan mendorong inklusi keuangan yang lebih luas, memberikan kemudahan, serta akses yang lebih terjangkau bagi turis maupun pebisnis dari kedua negara.
Sinergi erat antara bank sentral, asosiasi, dan pelaku industri keuangan ini diharapkan dapat membentuk ekosistem keuangan digital yang tidak hanya tangguh dan berdaya saing, tetapi juga inklusif, memperkuat hubungan ekonomi bilateral secara nyata hingga ke level konsumen.
PLAZGOS.my.id kami memberitakan anda menilai